Contoh Naskah Drama Teatrikal (Kampanye Stop KDRT Jateng 2016)

Naskah drama di bawah ini adalah naskah drama teatrikal yang saya dan teman-teman satu angkatan (jurusan Ilmu Komunikasi USM) yang mengambil Mata Kuliah Komunikasi Pembangunan yang project akhirnya adalah sebuah kampanye terbuka....

Kampanye sendiri kami adakan saat CFD (Car Free Day) di Semarang, di Jalan Pahlawan sampai Simpang 5. Naskah drama yang kami buat ini cukup sederhana karena memang tujuannya adalah agar mudah dipahami oleh masyarakat yang ada di CFD.... Langsung aja nih naskahnya...

DRAMA TEATRIKAL STOP KDRT

Pemain :
  • Ayah : Zaul
  • Ibu : Rindah
  • Anak : Yunika
  • Tetangga : Wahyu
  • Polisi : Dimas
Adegan I
Suatu ketika Rindah menerima tawaran lamaran Zaul dengan maksud agar ia bisa kuliah lagi setelah menikah. Tetapi setelah mereka menikah yang terjadi justru sebaliknya.
Zaul : “Rindah, rindah..(berteriak)”
Rindah : “iya mas, ada apa?”
Zaul : “pijit, kaki aku sakit”
Rindah : “iya mas”
Zaul : “Kamu itu kalau jadi istri itu yang bener, liat suamimu kecapean langsung dipijitin”
Rindah : “iya baik mas. Hmmm.... anu mas, ada yang mau aku tanya (dengan ragu-ragu)”
Zaul : “mau tanya apa?”
Rindah : “aku, aku sebenarnya ada rencana mau kuliah lagi, supaya gampang cari kerja. Aku kan juga mau cari kerjaan supaya bisa bantu mas tarjo cari uang, boleh kan?”
Zaul : “(tertawa terbahak-bahak) Wahahahahhahhaah... Apa? Ngga salah denger aku? Mau kuliah? buat apa? Kamu tuh perempuan ngapain pake acara kuliah-kuliah segala, pake alasan mau cari kerja segala lagi. Tugas kamu tuh sekarang jadi istri yang bener, lah sekarang aja kamu belum becus jadi istri. Udah sana bikinin aku kopi dulu (sambil melayangkan jari telunjuknya di kepala Rindah).
(Rindah pun beranjak pergi).
Zaul                : “Rindah-rindah, ada-ada aja dia. Pake acara mau kuliah segala, aku aja cuma tamatan SMP. (menggelengkan kepala sambil membuka koran dan membacanya)”

Adegan II
2 tahun kemudian, masih di tempat yang sama. Zaul pun sedang membaca koran. Dan tiba-tiba ada suara anak cewe menangis.
Zaul : “Rindah, Rindah, Rindah (teriakan semakin kuat). Aduh istri gak becus itu kemana sih? Dari tadi gak nongol-nongol. Anak nangis kok dibiarin aja! Rindah- Rindah!”
(Rindah pun datang)
Rindah : “iya ada apa mas?”
Zaul : “heh, telinga kamu itu rusak ya? (berteriak di dekat telinga Rindah). Dari tadi, Anak kamu nangis malah dicuekin. Ckckckckck, istri apaan kamu ini?”
Rindah : “saya habis dari pasar mas, beli sayur kesukaannya mas tapi ngga ada.”
Zaul : “alaaaah,,, alesan kamu. Bilang aja tadi kamu ngegosip sama tetangga sebelah.”
Rindah : “Gak mas, benar saya tadi habis dari pasar. Lagian kalau Yunika nangis, mas kan bias nanyain dia dulu sebentar, dia kan juga anak kamu”
Zaul : “Eh, mulai keterlaluan ya kamu, kamu coba ngajarin saya? (menarik rambut Rindah) Heh, saya itu suami kamu, jadi semua perkataan saya harus kamu patuhi. ngerti?”
Rindah : “i.. i.. iya, ampun mas”
Zaul : “Kamu itu cuma orang rendahan, syukur-syukur aku tuh mau nikahin kamu. (mendorong Rindah)”
Rindah : “Cukup mas, cukup. aku gak tahan lagi dihina, biar miskin tapi aku punya harga diri, biar aku ini cuma perempuan tapi aku juga punya hak untuk hidup tenang.”
Zaul : “Apa kamu bilang? Plak (tangan Zaul melayang), bilang sekali lagi, ayo bilang”
Rindah : “Aku ga mau lagi tinggal disini, aku mau keluar dari rumah ini. (sambil menangis ketakutan)”
Zaul : “plak, plak, (Zaul terus memukul Rindah) dasar istri gak tau malu, bisanya Cuma nangis terus. Udah dikasih hati minta jantung. Awas kalau kamu berani keluar dari rumah ini, aku gak akan segan-  segan nyakitin kamu dan anak kamu itu. Ngerti kamu? (sambil menunjuk-nunjuk Rindah)”
(Zaul pun beranjak pergi, dan Rindah hanya diam sambil menangis)

Adegan III
Beberapa hari kemudian, Rindah dan Tetangga pun bertemu. Betapa terkejut Tetangga melihat Rindah yang sudah babak belur karena KDRT yang dilakukan Zaul, suaminya.
Tetangga : “Astagfirullahaladzim, Rindah. Apa ini semua perbuatan suami kamu. Ya Allah aku sampai gak ngenalin wajah kamu.”
Rindah : “Aku gak apa-apa kok, ini udah biasa”
Tetangga : “Rindah, ini tuh gak boleh dibiasain, lama-lama kamu tuh bisa mati kalau disiksa begini.”
Rindah : “Terus aku harus gimana yu? Kalau aku keluar dari rumah ini suami aku gak bakal diem aja.”
Tetangga :  “Kamu tuh sebagai perempuan gak boleh lemah Rindah, kita sebagai perempuan punya hak untuk hidup layak. Apalagi sekarang ini zaman emansipasi wanita. Kesetaran  gender juga sudah berlaku dimana-mana. Dari semenjak Era Raden Ajeng Kartini saja, perempuan sudah punya hak dalam pendidikan dan hidup yang layak. Kamu juga berhak untuk itu Rindah. Untuk itu, sekarang kamu harus kuat, ada baiknya kita laporkan saja suami kamu ke pihak berwajib. Kan sudah ada buktinya, wajah kamu memar-memar karena dipukuli”
Rindah : “Apa? lapor polisi? jangan Wahyu, jangan. Aku takut.”
Tetangga : “kamu jangan takut, ada aku, aparat kepolisian, undang-undang dan juga pemerintah yang aku melindungi kamu dari KDRT dan suamimu itu. Jadi kamu tenang aja. Ayo kita pergi sekarang sebelum suami kamu datang”

Adegan IV
Zaul pun pulang ke rumah, dan tidak ada seorang pun di rumah.
Zaul : “(memanggil Rindah) Rindah, Rindah, Rindah... Bikinin kopi”
(Zaul pun duduk sambil membuka koran)
Zaul : “Rindah-rindah, kemana sih dia?”
(Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu)
Pak polisi : “Assalamualaikum”
Zaul : “walaikum salam (nada cuek). (tiba-tiba terkejut) A..a..ada apa ya Pak polisi?”
Pak polisi : “Apakah benar Anda saudara Zaul?”
Zaul : “i..i..iya be..benar”
Pak Polisi : “Anda ditangkap karena kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga terhadap istri anda yang bernama Rindah. Untuk itu harap ikut saya ke kantor polisi.”
Zaul : “A..apa? i..i..itu bohong. saya tidak bersalah. tolong..tolong.....”

Zaul pun akhirnya masuk penjara. Dan Rindah kemudian meneruskan lagi kuliahnya. Setelah beberapa tahun, Rindah lulus dari kuliahnya dan mendapat gelar sarjana. Ia ikut aktif dalam organisasi pemberdayaan wanita sampai akhirnya suatu saat Rindah pun dilantik menjadi menteri pemberdayaan wanita. Pada akhirnya, Rindah bisa membuktikan bahwa perempuan layak mendapatkan pendidikan dan berhak mendapatkan pekerjaan yang layak tanpa harus mengorbankan kodratnya sebagai seorang perempuan.

Comments

Popular posts from this blog

Contoh Proposal Skripsi Ilmu Komunikasi Penelitian Kualitatif (Yang Ingin Mencopy Harap Cantumkan Sumber)

NASKAH DRAMA MINAK JINGGO DAN DAMARWULAN

PERMASALAHAN KOMUNIKASI DALAM KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA